Galery

Galery

Preseden Buruk Pendidikan Kita


Diskusi dengan teman guru di teras kelas, perihal kelulusan siswa, sebagian besar tiap-tiap sekolah melakukan pengatrolan nilai raport siswa. Pengatrolan nilai siswa yang dimaksud disini yaitu memanipulasi nilai siswa, dimana nilai jelek menjadi nilai baik. Pengatrolan nilai raport siswa yang dilakukan oleh guru (tanpa sepengetahuan siswa dan orang tua) agar siswanya lulus. Karena sejak pada tahun ini (2011), kelulusan siswa tidak hanya dikendalikan nilai UN (Ujian Nasional), nilai raport juga menjadi faktor penting yang menentukan apakah siswa yang bersangkutan itu lulus atau tidak.

Sekolah merasa gagal dalam menjalankan pelayanan pendidikan (mengajar), jika siswanya ada yang tidak lulus. Sekolah juga ketakutan tidak mendapatkan anak didik, jika ada salah satu anak didiknya tidak lulus. Ketakutan psikologis inilah yang mendorong tiap-tiap guru, wakil kepala sekolah, hingga kepala sekolah, menjalankan praktik manipulasi nilai. Dimana nilai raport siswa yang jelek, disulap menjadi nilai cantik.

Tindakan para guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah, ternyata menuai preseden buruk. Anak-anak yang nilainya jelek, tiba-tiba berubah menjadi cantik, saling bercerita satu dengan yang lainnya. Cerita ini bahkan merampah kepada adik-adik kelasnya, yang sekarang sedang duduk di kelas bawah hingga kelas yang siap menghadapi ujian. Orang tua murid dan masyarakat juga telah mendengar kabar ini.

Para anak didik sekarang, tidak lagi hawatir akan kelulusan. Orang tua juga tidak lagi hawatir tentang ketidak lulusan anak-anaknya. Karena kelulusan telah dijamin oleh para guru, wakil kepala sekolah, dan kepala sekolah. Tentu anak-anak sekarang tidak usah susah payah belajar untuk mendapatkan nilai raport. Orang tua juga tidak susah payah menyuruh anak-anaknya untuk belajar, karena nilai raport dijamin bagus. Yang penting pada saat ujian digelar, siswa telah lunas bayar spp dan uang bangunan, dan siswa tidak melakukan tindakan asusila, pasti di jamin niai raport memuaskan. Karena jika nilai raportnya jelek, bukan hanya siwanya yang terancam tidak lulus, tapi sekolahnya juga terancam gagal dan ditinggalkan masyarakat, alias tutup.

Jika sebelum tahun 2011, nilai raport masih memiliki muatan kejujuran dari seorang guru, ternyata pada saat ini, ada kecenderungan, nilai raport telah terkontaminasi dengan nilai-nilai kebohongan dari guru. Raport hanya sebagai topeng kepura-puraan. Dan tragisnya, yang menjadi industri kepura-puraan adalah lembaga pendidikan yang pada hari ini masih menjadi harapan (ideal) bagi semua orang.